Hereditary (2018)
Sinopsis :
Pasca kematian sang ibu sekaligus nenek yang dikenal tertutup dengan dunia luar, keluarga Graham yang terdiri dari Steve, Annie, Peter, Charlie mencoba melanjutkan hidup mereka. Naasnya, duka terus menyelimuti keluarga ini apalagi setelah usaha mereka untuk mencari tahu misteri apa yang terjadi. Semakin mereka ingin tahu, semakin besar juga ancaman kematian yang akan menjemput mereka.
==========
Hereditary menjadi film debutan dari sutradara Ari Aster, yang sebelumnya lebih sibuk dengan proyek-proyek film pendeknya. Hereditary sendiri melakukan debut penayangannya di Sundance Film Festival 2018 dan mendapatkan beragam pujian dari para penontonnya. Ada yang beranggapan bahwa Hereditary adalah The Exorcist di masa sekarang. Ada juga yang menilai bahwa Hereditary adalah film horror paling gila selama beberapa tahun. Well, sebagai negara yang mendapatkan jadwal tayangnya tertinggal dari negara lain, penonton di Indonesia seperti saya jelas berekspektasi tinggi pada film produksi studio A24 ini. Apalagi, belakangan A24 adalah salah satu studio film hebat yang menelurkan karya-karya bagus diantaranya Lady Bird, Moonlight, It Comes At Night, hingga A Ghost Story.
Hereditary adalah horror psikologi yang jelas bukan seperti horror mainstream kebanyakan seperti Insidious ataupun The Conjuring yang jelas menjual jumpscare, scoring dan penampakan-penampakan hantu sebagai alat untuk menakut-nakuti penontonnya. Ia lebih sabar untuk meneror penontonnya dengan tempo yang agak lambat, atmosfir yang suram dan scoring yang pelan-pelan mencengkram rasa takut penontonnya. Kehebatan seorang sutradara debutan yang jelas terlihat disini ketika elemennya sebagai horror psikologi begitu efektif untuk membuat penontonnya merasakan rasa yang tak nyaman dan takut yang tak biasa. Saat berhasil di sisi teknisnya, Hereditary masih punya amunisi bernama Toni Collete, sosok ibu dengan sisi depresifnya yang begitu solid bahkan dari awal film dimulai hingga film berakhir. Milly Shapiro juga berhasil mencuri atensi penonton lewat wajahnya yang sangat "berkarakter" dibalik screening time nya yang terbatas. Pun dengan Alex Wolff yang tampil bagus dan tidak hanya menjadi pelengkap. Babak final Hereditary menjadi babak yang sungguh brilian ketika rasa takut, gelisah, dan khawatir sudah bercampur menjadi satu.
Hereditary bukan jenis horror yang mudah dikunyah meskipun andai dikategorikan, presentasi film ini masih mendekati horror mainstream kebanyakan. Bagi penonton yang tak terbiasa mungkin akan merasa menjenuhkan apalagi durasinya yang panjang hingga 127 menit. Tapi, Hereditary punya aturan untuk bisa menikmatinya sebagai horror psikologis. Pertama, tinggalkan ekspektasi sebagai horror mainstream macam The Conjuring / Insidious. Kedua, fokuskan pikiran kepada layar hingga filmnya usai dan rasakan kekuatan yang diberikan sebagai horror psikologis. Dan terakhir, selamat menikmati segala ketakutan dan kegilaan yang mencengkram penontonnya selama 2 jam !
8/10

Posting Komentar